Sebagai konsekuensi negara yang terletak di daerah pertemuan beberapa lempeng tektonik, Indonesia mempunyai banyak gunung api. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral mencatat 129 gunung api atau sekitar 13% dari seluruh gunung api di dunia berada di Indonesia. Sampai saat ini tercatat ada 80 gunung api yang dikategorikan aktif yang berpotensi untuk meletus.
Salah satu indikator dalam pemantauan gunung api adalah perubahan bentuk permukaan (ground deformation) gunung api yang disebabkan oleh perubahan tekanan atau pergerakan magma dalam perut bumi. Perubahan permukaan ini dapat dipantau dengan berbagai metode, salah satunya dengan metode penginderaan jauh dengan memanfaatkan metode interferometri dari data radar. Metode lainnya adalah metode pengamatan posisi menggunakan alat Global Positioning System (GPS) ; pengamatan perubahan jarak antar dua titik menggunakan Electronic Distance Measurement (EDM) atau dengan menggunakan tilt-meter. Indikasi perubahan permukaan bumi dikombinasikan dengan pengamatan visual dan instrumental lainnya (misalnya seismometer) memungkinkan analisis kondisi suatu gunung api menjadi lebih lengkap dan akurat. Hal ini membantu dalam pengambilan keputusan untuk perlu tidaknya evakuasi dilakukan apabila terdapat peningkatan aktivitas kegunungapian. Artikel ini memberikan ilustrasi tentang aplikasi metode interferometri data radar (Interferometry Synthetic Aperture Radar, InSAR) dalam pemantauan perubahan permukaan gunung api beserta contoh dari pengolahan data untuk Gunung Ibu yang berada di Halmahera, Maluku.
Artikel ini ditulis oleh Dr. Agustan Peneliti di Pusat Teknologi Inventarisasi Sumberdaya Alam BPPT. Artikel lengkap dapat dilihat di Inonasi Online.


Discussion
No comments yet.