//
anda sedang membaca...
Wahana pemantau bumi

Penjejak Ikan Nan Cerdas


Senin, 22 Maret 2010

Majalah Tempo Online.  TANGKAPAN ikan Muhamad Taher dan empat rekannya cenderung menurun pekan-pekan ini. Jala-jala milik nelayan tradisional di pesisir Teluk Jakarta ini tak mampu menjerat ikan sebanyak biasanya. Selama sepekan mereka menjelajahi lautan dan berpindah-pindah dari satu pulau ke pulau lain yang diyakini sebagai tempat berkumpulnya ikan, tetap saja ikan tak kunjung tertangkap. Bagan perahu kayu tak terisi penuh. Dan Taher pun merugi!

Pria berusia 34 tahun ini mengaku hanya mendapat ikan kurang dari satu ton. Padahal sekali melaut paling tidak dibutuhkan modal Rp 4 juta. Ongkos itu digunakan untuk biaya bahan bakar yang mencapai 400 liter solar, ongkos kerja nelayan, balok es, dan beberapa kebutuhan lainnya. “Kalau sudah begini, balik modal pun sudah untung,” kata Taher, yang sudah puluhan tahun melaut.

Taher tak perlu mengeluh dan berkeliling menyusuri lautan hanya untuk menemukan daerah yang banyak ikannya seandainya mempunyai Sikbes Ikan. Ini sistem pencari ikan terpadu yang dikembangkan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Sistem ini mampu menentukan lokasi yang kaya akan ikan. Tahun lalu, sistem berbasis knowledge-based expert system ini meraih penghargaan sebagai salah satu inovasi Indonesia paling prospektif.

“Sikbes penjejak ikan nan cerdas ini memungkinkan penangkapan ikan terencana dari awal,” kata Direktur Pusat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam BPPT Muhamad Sadli sepekan lalu. Selain meningkatkan kesejahteraan nelayan, peranti ini berguna bagi pemerintah daerah dalam merencanakan pengembangan kawasan pesisir di bidang sosial ekonomi dan evaluasinya.Sadli menjelaskan, data yang diolah dalam Sikbes Ikan akan divisualisasi dalam bentuk peta, grafik, dan gambar yang diperbarui secara seketika setiap hari. Sikbes Ikan mampu menjawab pertanyaan yang dibutuhkan pengambil keputusan dalam menentukan kebijakan atau proses penangkapan ikan dan pengaturan pesisir pantai.

Sikbes Ikan, misalnya, dengan mudah bisa mendeskripsikan titik pendaratan ikan, jenis, posisi, kedalaman, analisis kebutuhan bahan bakar, modal, perkiraan keuntungan yang akan diperoleh, ke arah mana kemungkinan ikan bergerak, penambahan jumlah kapal, serta jenis armada yang cocok untuk menangkap ikan.

Alat ini penting mengingat Indonesia merupakan negara maritim dengan sumber daya kelautan yang sangat besar, terutama potensi perikanan, sehingga dibutuhkan sistem informasi potensi sumber daya ikan laut yang baik dan akurat. “Sikbes Ikan salah satu solusinya,” kata Sadli.

Potensi sumber daya perairan Indonesia pun sangat besar, yakni 6,6 juta ton per tahun, menurut data Direktorat Jenderal Perikanan. Tapi produksi perikanan tangkap secara nasional realisasinya baru mencapai 45 persen dari potensi yang ada.

Rendahnya realisasi penangkapan ikan ini berpengaruh juga terhadap perolehan devisa ekspor. “Tidak mungkin hasil tangkap ikan akan meningkat tanpa bantuan teknologi dan keunggulan sumber daya manusianya,” kata Sadli. Penangkapan ikan yang didasarkan atas pengalaman dan kondisi alam terbukti kurang optimal, baik dari segi biaya maupun hasil tangkapannya.

Menurut peneliti utama Sikbes, Nani Hendriarti, penggunaan peranti lunak ini bisa meningkatkan hasil tangkapan dan pendapatan nelayan sedikitnya 30 persen. “Yang penting informasi dari Sikbes diterima oleh nelayan dengan baik,” katanya. Dengan informasi itu, nelayan dengan cepat bisa melakukan pencarian ikan sesuai dengan letak ikan yang telah ditentukan.

Agar tidak terjadi perebutan wilayah penangkapan ikan, kata Nani, sebaiknya para nelayan melaut secara berkelompok. Para nelayan dibagi dalam beberapa kelompok tertentu untuk mendatangi lokasi ikan yang telah ditentukan koordinat dan letaknya serta biaya bahan bakar yang dibutuhkan. Berapa jumlah armada yang perlu diterjunkan pun bisa diprediksi melalui Sikbes. Tapi keberhasilan sistem ini sangat bergantung pada sumber daya manusia yang mengoperasikannya. “Pemerintah daerah mempunyai peran penting,” kata Nani.

Wilayah yang telah menginstal piranti lunak Sikbes di antaranya Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah. Sayang, sistem Sikbes ini belum bisa beroperasi secara optimal. “Masih butuh sosialisasi,” kata Muhamad Idrus, Kepala Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.

Solusinya, beberapa pegawai pemerintah daerah di Kabupaten Parigi Moutong berencana mengikuti pelatihan Sikbes di Jakarta akhir Maret ini. Idrus optimistis program Sikbes dapat meningkatkan potensi pendapatan masyarakat yang sebagian besar bermata pencarian sebagai nelayan di garis pantai sepanjang 472 kilometer ini.

Selain oleh BPPT, alat penjejak ikan dikembangkan oleh mahasiswa program D-3 Teknik Elektro Universitas Gadjah Mada pada 2009. Penjejak ikan rancangan Tri Santoso, Fahmizal, dan Nia Maharani R.-mahasiswa angkatan 2006-ini beroperasi dengan pemancar 433 MHz dan menggunakan metode pengolahan citra modis sebagai dasar estimasi wilayah yang berpotensi terdapat ikan. Parameter keberadaan ikan ditentukan melalui sebaran klorofil dan plankton. Selanjutnya, informasi ini disebarkan kepada nelayan melalui alat global positioning system.

Penjejak itu berbeda dengan sistem penentuan ikan di laut menggunakan cara tradisional. Biasanya para nelayan hanya melihat tanda alam, seperti keberadaan burung di laut, keberadaan ikan kecil, dan kondisi cuaca serta ombak. Selain itu, tanda alam seperti keberadaan karang di laut, tubir karang dasar laut yang tiba-tiba mendadak ke dalam seperti jurang, dan keberadaan gunung di dalam laut yang menjadi dasar tempat tinggal ikan di laut.

Sistem Sikbes jauh lebih kompleks. Ia dikembangkan dengan menggunakan model prediksi lokasi keberadaan ikan di laut. Sistem tersebut memanfaatkan pendekatan integrasi antara metode sistem pakar, pengindraan jarak jauh, dan sistem informasi geografis dengan tinjauan klorofil serta keberadaan plankton sebagai salah satu bagian kecil indikatornya.

Sikbes dikembangkan pada 2007-2009 oleh tim BPPT. Awalnya dilakukan survei bagaimana karakteristik fisik perairan dari kondisi perairan sampai detail suhunya. Selanjutnya, dibuat metode yang bisa membantu para nelayan dengan menggabungkan beberapa sistem pakar yang ada.

Selama ini teknologi penjejak ikan hanya menggunakan pengindraan jauh dan sistem informasi geografis (GIS). Kini teknologi ini ditambah dengan alat yang disebut knowledge-based expert system. Keunggulan penggabungan beberapa sistem pakar ini memungkinkan Sikbes bisa menjawab pertanyaan sampai tingkat “why”. Artinya, sistem ini mampu memberikan jawaban yang diinginkan tentang sumber daya tangkap ikan dari segi sosial, ekonomi, sekaligus evaluasinya. “Teknologi sudah ada, kini tinggal penerapannya,” kata Sadli.

Taher merasa senang begitu mendengar ada alat yang bisa mendeteksi ikan secara akurat. Sebagai nelayan yang menganggap dirinya tidak berdaya, Taher berharap teknologi yang ada secepatnya bisa digunakan untuk kesejahteraan rakyat. “Kami tidak mau rugi terus,” katanya.

Rudy Prasetyo

Sumber: http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/03/22/ILT/mbm.20100322.ILT133034.id.html

About Agus Wibowo

Peneliti Bidang Remote Sensing dan GIS di Pusat Teknologi Inventarisasi Sumberdaya Alam BPPT. Sejak Januari 2012 pindah tugas di Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana).

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: